Sunday, July 5, 2009

-7-

“Selamat ulang tahun, Saila Retnani…”

Kalimat itu yang muncul pertama kali saat Saila tiba di kantor dua hari berikutnya dan melihat Monita cengar-cengir di dekat mejanya dengan sepotong kue tar, yang pastinya, tanpa lilin.

“Huh, basi, tahu!”

Monita malah tertawa. “Maaf…maaf, deh. Kemarin aku lupa telepon kamu, Sai. Kamu tahu, kan, anak-anakku itu sudah seperti penjahat di rumah sendiri? Kemarin mereka mengacak-acak rumah, menjatuhkan vas bunga, dan kamu tahu, Sai? Erick malah kemarin pura-pura jadi Spiderman dan maunya cuman jalan merayap di tembok! Lama-lama aku perlu konsultasi ke psikiater, deh, Sai! Takut gila duluan!”

Saila tertawa. “Untuk orang segila kamu, aku maafkan, deh, kamu melupakan ulang tahunku…”

Sambil tersenyum, Monita merangkul sahabatnya lalu mengecup kedua pipinya. “Jadi, nanti malam kita makan-makan, ya?”

“Uh, harusnya aku tahu kalau ujung-ujungnya kamu cuman minta traktir!” kata Saila sambil pura-pura merengut, meskipun sebenarnya, dia sudah berencana untuk menraktir sahabatnya di restoran baru, dekat kantor mereka.

“Bukan, Sai, justru aku yang ingin menraktir kamu.”

Wajah Saila langsung berubah, heran.

“Serius,” kata Monita saat melihat perubahan wajah sahabatnya. “Nanti malam aku mau mengajak kamu makan malam. Gratis, kok. Aku yang bayar.”

“Kamu? Nraktir aku padahal seharusnya aku yang menraktir? Hmm… kayaknya ada yang nggak beres, deh…”

“Haha, hidungmu itu tajam banget, sih, kayak si Bruno-ku!”

“Sialan, sejak kapan aku bisa sama kayak anjingmu yang bisanya cuman ngiler itu?”

“Sejak insting kamu tajam seperti anjing!” Mereka tertawa.

“Jadi, apa rencana ‘busuk’mu, hem?” tanya Saila setelah mereka berhenti tertawa.

“Aku mau kamu ketemu seseorang, nanti malam.”

“Aduh, Mon… Hal terakhir yang ingin aku lakukan adalah berkencan buta sama calon-calon suami di dalam khayalanmu itu, Sayang…”

“Sudah, dong, Sai. Kan aku nggak beli kado buat kamu, jadi anggap saja, cowok ini adalah hadiah ulang tahun buat kamu…”

“Dan di mana kamu belinya? Di Gays and Playboys counter?”

Monita tertawa lagi. Kali ini lebih kencang.

“Yang satu ini, pasti kamu cocok, deh, Sai. Percaya, deh…”

Kalimat andalan yang mengakhiri ‘perseteruan’ tidak penting di Senin pagi.

*

Nice to meet you, Saila,” kata Didit saat mereka berpisah di parkiran.

“Sama-sama, Dit.”

“Aku boleh telepon kamu, kan?”

Saila mengangguk.

“Sampai ketemu lagi, Saila…. Lang, Mon, terima kasih, ya!”

Saat Didit sudah berlalu dari pandangan, Monita menyikut pinggangnya lalu tersenyum-senyum pada Saila sembari melirik-lirik suaminya.

“Mas, Mas, kayaknya kali ini berhasil, deh.”

Mas Gilang hanya tersenyum sementara Saila mulai merasa salah tingkah.

“Monita, kamu ini…”

“Tapi aku nggak salah, kan, Sai?” potong Monita. “Tadi kamu terlihat enjoy sekali sama Didit. Pokoknya nggak seperti cowok-cowok yang dulu pernah aku kenalin ke kamu, deh!”

“Apaan, sih, Mon? Mas, Mas, bisa minta tolong, nggak? Istrinya dijagain, tuh… Lama-lama dia bisa jadi germo, lho.”

Monita mencubit pipinya sekilas.

“Ini, kan, karena aku care sama Saila, Mas,” rajuknya pada Mas Gilang yang hanya menonton mereka sambil tersenyum kalian-ini-kayak-anak-kecil-saja. “Ya, kan, Mas?”

“Kalau care itu, bayarin listrik, air, gas, belanja bulanan, dan biaya bensin setiap bulan, Mon, bukan jodoh-jodohin begini.”

“Kalau itu, bukan care lagi namanya, Sai, tapi kurang kerjaan dan lupa sama keluarga sendiri!” Mereka tertawa lagi.

“Tapi benar, kan, kamu enjoy sama Didit? Aku, sih, cuman melihatnya dari luar, Sai. Hati orang, siapa yang tahu, betul?”

Saila mengangguk.

“Jadi, jadi, benar kamu suka sama dia?” tanya Monita tidak sabar.

Sahabatnya tertawa. “Monita, aku nggak bisa, dong, langsung suka sama seseorang. For God sake, aku baru ketemu dia dua jam yang lalu, Mon.”

“Iya, iya, tapi kesan pertama adalah segalanya, kan?”

“Iya, tapi bukan berarti aku bisa langsung suka sama dia, kan, Mon?”

“Tapi, Sai…”

Ladies… please!” Mas Gilang menginterupsi sambil berjalan di tengah-tengah mereka dan membuat Monita berhenti nyerocos. “Urusan itu bisa diselesaikan di lain waktu, kan? Lain waktu, maksudnya, kalau aku nggak ada di antara kalian. Bisa bahaya, lho, kalau aku lapar lagi. Istriku bakal ngomel kalau makanku banyak, Sai... ”

Mas Gilang mencium kening Monita sambil mengedipkan matanya pada Saila yang tersenyum lega.

*

Malam, Saila. Sudah tidur?

+6281330127727

Mm, siapa ya?

Ini aku, Didit. Masa sudah lupa?

+6281330127727

Haha, maaf, Mas. Aku belum simpan no hp kamu. Belum tidur, lah. Masih sore.

Masih sore? Di rumahku sih sudah jam 1. Apa ada perbedaan waktu ya antara Surabaya barat dan utara?

+6281330127727

Ada dong. Coba kalau kamu ke sini, pasti jamnya sudah beda 45 menit J

Jadi aku boleh main ke rumah, kapan2?

+6281330127727

Selama bawa bekal sendiri dan nggak ngerepotin sih, ayuk aja.

Ada yang marah nggak? Nanti sampai di sana ada algojo yang siap ngebiri aku, awas ya J

+6281330127727

Untuk kunjungan pertama, aku mau sewa bodyguard, Mas. Untuk jaga2 aja

Minggu depan kita buktikan, deh. Tapi jangan sewa bodyguard yang gay ya, Sai. Aku takut dia naksir aku.

+6281330127727

Haha, hobi kok GR. Datang aja, Mas. Tapi bawa oleh2 ya…

It’s a deal. Ya sudah. Asal memang nggak mengganggu ‘hak milik’ orang lain, aku berangkat, kok! Benar, ya, nggak akan ada yang marah?

+6281330127727

Saila membayangkan wajah Ibnu sebentar, merasa hatinya pedih seketika, tapi ia memutuskan untuk segera membalas sms lelaki baik itu.

Benar, nggak ada. Percaya, deh.

Ibnu… Mbak minta maaf, ya…

-6-

Yes. Officially, I’m turned 39.

Ibnu hanya tersenyum. “Perempuan umur 39 yang paling cantik di mataku, Mbak.”

Saila membiarkan Ibnu merangkul pundaknya dan mereka bersandar di punggung kursi teras sambil memandang apa saja yang terbentang di atas langit. Rasanya dia memang masih membutuhkan Ibnu untuk melewatkan hari ini. Dia belum ingin menyuruh Ibnu pulang untuk ‘kembali’ ke dalam hidupnya seperti setiap kali Saila merasa lelaki ini telah memasuki hatinya terlalu dalam.

“Nu, boleh tanya, nggak?”

Ibnu hanya meng-ehem tanpa berkata apapun, tapi merangkul Saila lebih erat. Saila merapatkan tubuhnya dan membiarkan aroma tubuh Ibnu melekat sempurna di tubuhnya.

“Kenapa tadi lilinnya hanya satu, sih? Nggak kenapa-kenapa, kok, Nu, kalau kamu taruh angka 3 dan 9 di atas kue tar… Bagaimanapun, itu tetap umurku, kan? Aku, sih, nggak keberatan, Nu…”

Ibnu menoleh dan menatap kedua mata Saila.

“Mbak, aku juga nggak keberatan dengan umur Mbak yang 39, kok. Cuman tadi aku memang nggak sempat beli dan yang ada cuman lilin-lilin kecil itu… Tadinya mau aku taruh semuanya, tapi nggak cukup, Mbak… Terlalu banyak, sih…” Ibnu menyengir genit lalu mencubit ujung hidung Saila sekilas sambil mengatakan, “Aku bercanda, kok, Mbak… Satu batang itu artinya tahun pertama aku merayakan ulang tahun Mbak Saila…”

Saila tersenyum. “Ibnu, Ibnu, sudah, deh. Aku memang sudah tua, kok. Tahun depan aku 40… Laki-laki mana yang mau sama aku, ya?”

“Nggak usah repot-repot mencari, deh, Mbak, kan sudah ada aku,” tutur Ibnu dengan senyumnya yang khas. “Sampai berapapun umur Mbak Saila, aku tetap mau, kok, percaya, deh.”

Sampai aku kehabisan duit untuk suntik botox dan ikut program pelangsingan, kamu tetap mau sama aku, Nu? Sampai aku menyerah dengan kulitku yang mengendur, perutku yang buncit, dan wajahku yang sudah tidak segar lagi, kamu masih menganggapku perempuan yang cantik? Bisakah, Nu? Bahkan saat Biyan melihatku di ‘masa-masa keemasanku’, dia malah memilih Nyna, bukannya aku…

Hati Saila bergetar.

“Kita jadi membahas ini lagi, Nu, padahal Mbak capek harus terus-menerus mengulang-ulang hal yang sama…”

“Tapi aku nggak akan pernah capek untuk bilang sama Mbak kalau aku…”

“Ibnu, please.” Saila memotongnya. “Aku nggak ingin memikirkan apa-apa malam ini, selain duduk berdua sama kamu, dan melihat bintang-bintang. Kita jalani aja semua ini seperti air, Nu,” tukas Saila sambil menoleh dan memandangi Ibnu yang seperti menahan perasaannya. “Boleh, ya? Ini kan hari ulang tahunku…”

Ibnu hanya mempererat pelukannya lalu memandang langit.

Sambil menyandarkan tubuhnya dan merasakan kehangatan tubuh Ibnu, Saila ikut menatap langit dan larut dalam diam. Dia tidak melihat Mbok Darmi yang diam-diam memperhatikannya di balik jendela, hanya ikut tersenyum dan menitikkan air mata harunya. Mbok Darmi yang selalu menganggap Saila adalah anak gadisnya sendiri, serta menganggap Ibnu adalah lelaki yang tepat di waktu yang salah.

Saila memandangi Ibnu diam-diam dengan ujung matanya.

Ibnu…

Asal kamu tahu, sesaat sebelum meniup lilin tadi, aku berharap kamu bukan lagi dua puluh, tapi tiga sembilan…

-5-

“Orang-orang itu memang keterlaluan, ya, Sai?” Monita yang sibuk mengingatkan Saila lagi pada kekesalan hatinya. “Apa, sih, urusan mereka?”

Saila tersenyum. “Mungkin mereka care sama aku, Mon, tapi caranya yang salah…”

“Yeee… perhatian gimana? Sai, Sai, yang namanya perhatian, tuh, mencari pasangan buat kamu, bukannya menggosip yang nggak-nggak! Huh, bikin kesel aja!”

“Sudah, lah, Mon, percuma kamu kesal sama mereka, toh mereka nggak pernah bisa berubah, kan? Aku, sih, sudah kebal sama mereka, Mon. Mungkin karena ini sudah gosip yang kesekian kalinya, jadi lama-lama badanku punya imun…”

Monita terlihat serius lalu menyerah setelah melihat Saila bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa. “Sai, tapi yang paling penting… kamu baik-baik aja, kan?”

“Apa? Aku?” Saila menyentuh tangan Monita. “Mon, Mon. Kamu tahu, kan? Hatiku sudah terlalu capek untuk memikirkan hal-hal seperti itu. Kamu pasti ingat gimana Biyan sudah menghabiskan seluruh kepedulianku, kan? Jadi, jangan khawatir, deh. Aku nggak sakit hati, kok…”

“Sai… jangan bohong, deh.”

“Hei, bohong sama kamu itu dosanya sama kalau aku bohong sama ibuku sendiri, Monita,” balas Saila sambil tersenyum.

“Tapi, Sai…”

“Apa lagi?”

“Mm… kamu yakin kamu nggak tersinggung dengan kata-kata mereka?”

Wajah bulat telur Saila menggeleng. “Nggak, tuh. Kenapa harus tersinggung, sih, Mon? Pekerjaan utama mereka di kantor, kan, memang cuman untuk bergosip, jadi buat apa aku susah payah mikir? Betul, kan?”

“Iya, sih…”

“Ya, sudah. Terus, apa?”

“Mm… I couldn’t help but wonder, Sai. Kalau memang Brondong bukan buat obyek seks semata, lantas, dia itu ‘apa’?”

Pertanyaan itu menyesak lagi.

*

Saila duduk di kamar mandi, di atas penutup toilet, dan membakar ujung rokoknya lalu menghisap perlahan, dengan wajah Ibnu terbayang sempurna di depan matanya. Sudah setahun belakangan ini, sejak Ibnu mengatakan, “Lucu, ya, Mbak? Di saat orang-orang berebut cari pengobatan alternatif atau malah pergi ke luar negeri mencari cara supaya tetap sehat, Mbak Saila malah mempercepat proses kematian…”

Betapa dewasanya seorang Ibnu. Betapa piciknya pikiran Saila ketika berlari dari kenyataan dengan menyesakkan asap ke paru-parunya. Ibnu adalah lelaki dewasa di dalam seorang anak kecil yang seakan tidak mengerti apa-apa, tapi sesungguhnya, dia mengerti hampir segalanya.

Mengerti bagaimana menyenangkan hati Saila, mengerti caranya untuk membuat Saila tertawa, tahu bagaimana Saila ingin selalu bersandar di hatinya, mengerti bahwa Saila telah menciptakan batasan-batasan penuh ranjau di sekitar hatinya, padahal perempuan itu sangat membutuhkannya.

Di dalam tubuh perempuan setegar Saila, dengan kemasan yang berlabel ‘manager-yang-baik-baik-saja-tanpa-lelaki’, tetap ada seorang perempuan kecil yang terluka hatinya, yang ingin dicintai, yang haus akan perasaan dibutuhkan oleh orang yang dicintainya, dan seorang perempuan yang tidak ingin terluka lagi karena setelah sembilan tahun yang sia-sia itu, dia mulai meragukan kebiasaannya untuk tidak akan pernah ditinggalkan.

Saila menghisap rokoknya sekali lagi. Setiap kali kepulan asap mulai mengotori paru-parunya, sebetulnya dia merasa bersalah pada Ibnu, juga pada dirinya sendiri. Apa kata Ibnu nanti kalau dia tahu Saila kembali merokok. Dia akan meninggalkan Saila? Seperti lelaki brengsek satu itu? Setelah hatinya megap-megap karena penuh oleh cinta…

“Mbak, kalau saja aku tahu seperti apa tampang cowok kurang ajar itu, pasti aku akan meremukkan dia dengan tangan-tanganku ini…”

Itu kata-kata Ibnu saat mereka makan di pinggir jalan, yang ternyata adalah tempat sejuta kenangannya bersama Biyan, dan membuat Saila tiba-tiba menitikkan air matanya.

“Nu, aku nggak mau kamu masuk penjara cuman karena lelaki seperti Biyan.”

“Biar, aku, sih, nggak peduli, Mbak. Aku rela melakukan apa aja, asal Mbak Saila bisa berhenti menangis setiap ingat dia!”

Saila tahu, Ibnu means every word. Dia bukan tipe lelaki yang mudah mengobral janji dan memberikan kalimat-kalimat yang hanya sekedar bisa menenangkan hatinya, tanpa penunjukan efek visual. Baginya, setiap kata-kata adalah doa, setiap kata-kata pantang keluar untuk sia-sia.

Seperti kata-kata dia sangat mencintai Saila dan menganggap perempuan hampir seumuran ibunya adalah persembahan terindah dari Surga…

“Non Saila…”

Saat asyik merokok sambil terseret sebentar ke masa lalu, Mbok Darmi mengetuk pintu kamar mandinya.

“Ya, Mbok? Ada apa?” Saila membuka pintu kamar mandinya setelah menekan ujung rokoknya lalu melemparnya ke dalam tong sampah kecil di sudut sambil menyemprotkan pengharum ruangan.

Ada yang mencari Non Saila. Perempuan.”

Perempuan? “Monita, ya, Mbok?” Tanya Saila sambil duduk di atas ranjangnya dan merebahkan tubuhnya untuk ‘memanjangkan’ kakinya.

“Bukan, Non, bukan Non Monita. Yang ini Mbok nggak kenal, Non. Sepertinya, sih, dia belum pernah ke sini…”

“Bukan sales, kan, Mbok? Aku lagi malas, nih, ketemu sama mereka…” Membayangkan Sabtu pagi yang cerah seperti ini, rasanya akan sangat sia-sia kalau menghabiskan beberapa jam hanya untuk mendengar keunggulan produk anu-itu dibandingkan produk-produk sejenis lainnya. Jangan hari ini, deh.

“Bukan, Non. Katanya, sih, teman lama…”

Kata-kata Mbok Darmi membuat Saila meninggikan ‘antena’nya. Teman lama? Belum pernah ke sini? Hm…

“Perempuan, kan, Mbok?” Saila menegaskan sekali lagi untuk merasa yakin kalau bukan Biyan yang datang. Tapi rasanya Mbok Darmi tidak akan pernah melupakan wajah Biyan, karena dia hafal setiap senti wajah lelaki yang ahli membuat Nona-nya menangis. Dia sendiri yang mengelus-elus rambut Saila sampai tertidur dengan air mata yang berkilat karena timpaan cahaya lampu. Dia juga yang membuatkan bubur ayam supaya paling tidak Saila mau memasukkan sedikit makanan di perutnya. Jadi, kalau sampai Mbok Darmi membiarkan Biyan masuk ke rumah, berarti sama saja dia menyakiti Nona yang telah dianggapnya sebagai anak sendiri.

“Iya, Non, perempuan. Cantik.”

“Mmm… tapi dia sudah masuk ke rumah, ya?”

“Sudah, Non, tapi Mbok suruh menunggu di teras depan.”

“Mmm, ya, sudah, deh, Mbok. Aku mau ganti baju dulu, baru aku keluar, okay?”

Mbok Darmi tersenyum lalu keluar dari kamarnya. Sambil memilih-milih baju, Saila mulai melakukan aksi ‘Sherlock Holmes’nya. Siapa kira-kira perempuan itu, ya? Katanya teman lama, terus… cantik juga. Siapa yang nekat disebut cantik oleh Mbok Darmi, ya?

Saila terkekeh sendiri. Ingat reputasinya yang not bad saat masih menginjak bangku sekolah dan kuliah. Satu-satunya perempuan cantik dengan otak, itu kata-kata setiap lelaki yang mengenal dia. Setiap mengingat hal itu, pasti membuat Saila langsung merasa ‘senang-tapi-malu-banget-untuk-mengakui’. Ya, perempuan mana, sih, yang dengan teganya merasa biasa-biasa saja kalau mengetahui dia termasuk golongan perempuan yang sangat digilai laki-laki?

Rasanya itu normal sekali untuk merasa senang. Dan cukup normal untuk membuatnya merasa sangat berbeda dengan perempuan lain.

Akhirnya Saila memilih kaus pas badan warna pink, warna favoritnya, dengan celana denim selutut. Rambut keritingnya masih basah dan hanya ia rapikan dengan sisir bergigi jarang. Setelah yakin kalau ia sudah tampil cukup cantik dan wangi, dia keluar dari kamar.

Siapapun dia, jangan sampai aku terlihat lebih jelek…

Saila berjalan ke ruang tamu, tapi ketika tangannya menyibak korden pembatas ruang tamu dengan ruang makan, dia dikejutkan dengan sebuah pemandangan yang memancing air matanya.

Dia melihat…

Ibnu.

Dengan kue tar di tangannya dan satu batang lilin pendek di atasnya, juga dengan Mbok Darmi yang berdiri di sampingnya sambil tersenyum bahagia. Entah karena kejutan ini, atau bangga karena berhasil membuat Saila tidak curiga.

Ya, Tuhan…

Aku lupa hari bahagiaku sendiri…

-4-

Saila tidak pernah mencium Ibnu, meskipun setiap melihatnya, rasa afeksi perempuan ini seperti ingin segera dimanjakan. Tidak sekali dua kali dia mengimajinasikan lembut bibir Ibnu di atas bibirnya, tapi juga tidak sekali dua kali akhirnya dia berkata dalam hati, “Jangan, Saila, nanti perasaan kamu makin dalam buat dia…”

Setahun dekat dengan Ibnu telah mengaduk-aduk perasaannya. Mulai dari perasaan senang karena akhirnya dia bisa menganggap masih ada ketulusan cinta di era digital ini sekaligus perasaan ketakutan karena ditinggalkan.

Perbedaan umurnya dengan Ibnu yang sangat jauh telah menciptakan kondisi yang tidak menguntungkan. Cinta yang tertahan, rindu yang sekejab datang lalu hilang, dan ingin mencintai tapi ia yakin Ibnu bukanlah “The One”.

“Tapi aku yakin, Mbak Saila orang yang aku cari…” kata Ibnu suatu hari. Lebih tepatnya, hari terakhir Ibnu kerja magang di kantornya.

“Nu, jangan bercanda, ah. Nggak lucu, tahu.”

“Ini bukan bercanda, Mbak, tapi aku serius. Aku melihat sesuatu yang lain, sesuatu yang membuat Mbak berbeda daripada perempuan lain…”

“Jelas beda, dong, Nu. Mereka, kan, masih anak kuliahan, sementara aku? Lihat. Aku sudah tiga delapan. Pasti, lah, banyak bedanya. Aku, kan, jauh lebih tua daripada mereka.”

“Mbak.... Please. Beri aku kesempatan.”

Untuk membiarkan hatiku berharap akan ada keajaiban sekali lagi dan setelah itu membiarkan kamu melukai hatiku? Terima kasih, Nu, tapi maaf, bukan begitu caranya.

“Ibnu, aku yang harus bilang ‘please’ ke kamu, karena… aduh… gimana, ya, Nu, harusnya kamu tahu kalau kita ini…”

“Mbak, aku tahu, Mbak Saila pasti mikir yang aneh-aneh dan punya pendapat lain soal aku, tapi Mbak… bisa nggak, sih, sedikit saja, Mbak Saila membuka hati supaya bisa melihat gimana sebenarnya aku?”

Saila tidak memberinya kesempatan, tapi diam-diam, setahun belakangan ini dia melihat ‘seperti apa sebenarnya’ seorang Ibnu. Usianya memang masih muda, baru menginjak dua puluh tahun, tapi pemikirannya, jauh lebih dewasa daripada ‘si Keset’ Biyan. Tidak pernah sekalipun Saila dibuatnya menangis. Tidak pernah kulit Saila terluka meskipun karena goresan kuku yang tidak sengaja. Ibnu menjaganya seperti porselin Cina yang antik, langka, dan perlu perlakuan khusus. Karena Ibnu tahu benar kalau seorang Saila pernah terluka karena so called cinta…

Hm. Cinta.

Terakhir ia tahu seperti apa cinta adalah ketika terakhir Biyan memutuskan untuk meninggalkannya, demi perempuan lain, yang sayangnya adalah sahabatnya sendiri. Setelah delapan tahun pacaran, setahun bertunangan, dan dua bulan menjelang pernikahannya, tiba-tiba Biyan memutuskan untuk menyakiti Saila dengan mengatakan, “Aku nggak bisa meneruskan rencana kita, Saila. Aku nggak bisa menikah sama kamu. Percuma saja kalau aku meneruskan pernikahan ini tapi hatiku sudah dimiliki orang lain dan aku sudah nggak memikirkan kamu lagi…”

Saat itu Saila terdiam. Memandang Biyan sampai tak bisa berkata-kata, seperti seorang yang takjub karena melihat si bisu bisa berbicara. Biyan dengan tutur kata yang lancar mulai melanjutkan kalimatnya lagi, kalimat yang tentu saja akan selalu diingat dalam hati kecil Saila yang masih memerah basah.

Kalimat yang sederhana. Kalimat ini.

“Sai, aku jatuh cinta sama Nyna…”

Seperti pukulan yang mematikan dan membuatnya terjatuh, terduduk, tanpa bisa melakukan reaksi apa-apa. Seperti strike 3 di pertandingan baseball. Pertama, kenyataan bahwa Biyan tidak bisa melanjutkan pernikahan ini. Kedua, karena dia telah memikirkan orang lain selain dirinya. Yang terakhir, dan paling menyedihkan, adalah… lelaki paling agung, paling dicintainya, paling dibanggakannya, selama sembilan tahun dalam hidupnya, telah jatuh cinta pada Nyna! Sahabatnya sendiri!

“Jangan marah, ya, Sai? Ini bukan salah Nyna, tapi salahku…”

Saila masih terdiam.

“Saila, aku…”

“Kalian sudah pacaran?” potong Saila dengan suara terbata-bata dan air mata yang merebak tanpa kendali.

Biyan mengangguk. Dengan tegas. Seakan-akan berkata, “Ya, lantas kenapa?”

Mendoakan mereka berbahagia adalah hal terakhir yang ingin Saila lakukan, sehingga dia memilih untuk pergi begitu saja dari hadapan Biyan dan memutus semua cara untuk bisa berkomunikasi dengan mantan tunangannya itu. Dia menjual rumah hasil jerih payahnya, yang semula akan menjadi tempat bernaung dirinya dan Biyan serta anak-anak mereka berdua, lalu membeli rumah baru. Dia membuang sim card lamanya lalu mengganti dengan nomor baru. Dia hanya tidak pernah pindah dari kantornya, karena dia tahu, kantor adalah tempatnya yang paling aman setelah semua perbuatan buruknya yang tersebar ke seluruh karyawan di kantornya.

Kejadian itu sudah dua belas tahun yang lalu, tapi pedihnya masih terasa sampai detik ini, masih mengilukan tulang-tulangnya dan hampir membuatnya philophobia, trauma terhadap cinta.

Tapi sejak setahun yang lalu, trauma itu mulai meluntur dan malah menunjukkan warna sejatinya.

Karena ia bertemu dengan Ibnu.

Lelaki yang selalu dia inginkan berusia, paling tidak, tiga puluh lima tahun…

-3-

“Mbak, coba tebak, semester ini IP-ku berapa, hayoo?”

“Mmm… pastinya tiga koma, ya? Berapa, sih?”

“Kalau bagus, minggu depan kita kencan lagi, ya? Gimana?”

Saila tertawa. “Haha, Ibnu... Ibnu... Kamu itu lucu banget, sih! Yang sekarang aja belum selesai, kok, kamu sudah mau mengajak kencan lagi...”

“Ini namanya strategi, Mbak. Abis, mbak Saila susah diajak ketemuan, sih! Kebanyakan alasan! Kalau nggak lembur, ya lagi capek. Kalau nggak capek, ya lagi bokek. Kalau aku yang traktir bilang lagi malas keluar. Begitu aku mau main ke rumah, yang ada Mbak Saila bilang mau pergi karena ada urusan mendadak. Ditungguin di depan rumah, eh bilangnya ngantuk. Huh…”

Wajah Ibnu yang merengut manja membuat Saila mengacak rambutnya dengan sayang. Desir hatinya kembali terasa. The zsa zsa zsu, sebuah istilah Carrie Bradshaw di serial favoritnya Sex and The City untuk nama lain dari “butterfly”, getaran aneh di perut setiap kita berdekatan dengan orang yang kita cintai.

Ibnu malah meraih jemarinya.

“Mau sampai kapan, sih, Mbak menghindari aku terus? Apa nggak capek, ya, lari-lari terus? Apa justru itu, ya, yang bikin Mbak Saila langsing seperti sekarang ini?” Ibnu tertawa sambil terus meremas jemari Saila perlahan, dengan sayang dan lembut.

Saila membiarkan Ibnu dan memandang lelaki muda yang duduk di depannya. “Sebelumnya, asal tahu aja, Nu. Aku langsing karena diet, bukan karena lari-lari menghindar dari kamu,” tukasnya sambil tersenyum. “Dan… satu hal yang pasti, aku menghindar untuk kebaikan kamu sendiri.”

Kalimat itu selalu menjadi jawaban standar untuk pertanyaan Ibnu setiap mereka bertemu. Biasanya, setelah itu Ibnu akan membalasnya dengan bertanya, “Yang tahu apa yang baik buat aku, kan, aku sendiri, Mbak.” Dan iya, akhirnya dia bertanya hal yang sama setelah menunduk sebentar lalu memandangi Saila yang menatapnya dengan pandangan lihat-dek-aku-sudah-terlalu-tua-buat-kamu.

Dia hanya menambahkan beberapa kalimat ini, “Mbak, bisa nggak, sih, Mbak Saila melihat aku nggak dari umur? Bukan dari kemasan? Tapi dari ini…” Ibnu membawa tangan Saila ke dadanya. “Hati nggak pernah bohong, Mbak. Aku say…”

“Ssstt, Ibnu. Sudah, ya?” potong Saila sebelum Ibnu melontarkan ‘kalimat sakti’nya. Dia sudah terlalu sakit hati karena Biyan dan dia tidak mau memanjakan perasaan sedihnya dengan mencintai lelaki yang salah. Not again. “Mbak masih harus kembali ke kantor, nih. Bisa kita selesaikan makan siangnya?”

*

Oh ya, IPku 3,78. Barangkali masih minat untuk ketemuan lagi sama aku.

Ibnu.

Ibnu mengirimnya sms, tepat setelah Saila tiba kembali di kantor dan mulai mengerjakan tugas-tugasnya. Mau tak mau, Saila tersenyum, meskipun perih, karena dia merasa telah menyakiti Ibnu dan membuatnya sedih.

Aku nggak bermaksud bikin kamu sedih, Nu…

Ini cuman satu-satunya jalan supaya kita nggak berjalan terlalu jauh…

Saila meletakkan telepon selularnya di atas meja sebelum mulai melanjutkan laporan mingguannya sembari melupakan wajah Ibnu yang sedih, beberapa saat yang lalu. Seperti biasa, dia sibuk-sibuk-dan sibuk sepanjang hari. Untuk seorang Manager seperti dia, rasanya pekerjaan adalah “teman baiknya”. Itulah mungkin yang membuat Monita seperti risih karena melihat Saila sangat menikmati pekerjaannya dan melupakan ‘kehidupannya’.

“Sibuk, nih, ye?” Tiba-tiba kepala Monita muncul dari balik monitor dan sempat membuat Saila sport jantung sedikit.

“Ih, awas kamu, Mon! Kalau aku mati kena serangan jantung, gimana?” tukas Saila sewot.

“Ya, standar lah. Dikubur. Emang kamu mau diapaain? Dikremasi, terus abunya dibuang ke laut?” Monita tertawa.

“Uh, dasar Sableng!” Saila melempar gulungan kertas ke Monita sambil tertawa. “Kerja, sana, jangan makan gaji buta, deh!”

“Haha, mendingan gaji buta, deh, daripada nggak digaji sama sekali!” Monita masih tertawa. “Lightened up, Sai, jangan serius terus, ah, nanti mukamu jadi kayak komputer, lho, kotak-kotak!”

“Sudah terlanjur, Mon, sudah paten.” Saila membalasnya.

“Kamu ini…” Monita duduk di sampingnya. “Mm… Sai, Sai, tadi pas aku main ke ruang finance, aku curi dengar gosip tentang kamu, lho…”

Mendengar kalimat itu, Saila langsung menoleh dan menghentikan kegiatan ketik-mengetiknya. “Yaa..? Apa lagi sekarang?”

“Biasalah, gosip yang kemarin itu…”

“Soal aku sama Ibnu?”

Monita mengangguk.

“Terus?”

“Katanya kamu yang ngejar-ngejar Brondong itu, Sai…”

“…”

“Katanya lagi, si Brondong sudah ditentang habis-habisan sama orang tuanya dan kamu yang menyembah-nyembah Brondong supaya nggak meninggalkan kamu…”

“…”

“Terus, parahnya… katanya kamu itu… mmm… gimana, ya, Sai? Aku nggak tega cerita…”

“Cerita aja, deh, Mon,” potong Saila dengan jantung yang berpacu lebih kencang dari biasanya.

Monita menggenggam tangannya. Saila sudah meraba bahwa kalimat berikutnya akan sangat membuatnya sakit hati.

“Sai, kamu sabar yaa… Mmm…mereka bilang… mmm… kamu ini cuman… mmm…. manfaatin si Brondong buat seks…”